Lazismu AG Raya Gelar Konsolidasi di Bercakap Kopi Kediri: Satukan Visi, Perkuat Gerakan Filantropi
Oleh: Muhammad Khoirun Nizam
•
09 October 2025
•
84 Dilihat
Berita
temanamal.org – Menguatkan barisan dan merapikan langkah gerakan menjadi fokus utama pertemuan Lazismu AG Raya yang digelar di Bercakap Kopi, Kabupaten Kediri. Dengan mengangkat tema “Penguatan Internal Lazismu AG Raya”, pertemuan ini menghadirkan para pengurus Lazismu dari berbagai daerah se-wilayah AG Raya. Suasana pertemuan tampak hangat, menggambarkan semangat persaudaraan dan tekad kuat untuk memajukan gerakan filantropi Muhammadiyah.
Hadir dalam pertemuan tersebut Manajer Area Lazismu Wilayah Jawa Timur, Agus Lukman, yang didapuk sebagai pembicara utama. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi terhadap semangat kolaboratif Lazismu di wilayah AG Raya yang dinilai memiliki potensi besar dalam penguatan gerakan dakwah sosial.
“Lazismu adalah amanah umat. Maka setiap langkah kerja kita harus berangkat dari kesadaran bahwa yang kita jalankan ini adalah bagian dari dakwah, bukan sekadar kegiatan sosial biasa. Di sinilah pentingnya penguatan internal agar kita punya arah yang jelas, ritme yang terukur, dan tim yang solid,” jelas Agus Lukman.
Dalam suasana diskusi yang santai namun serius, satu per satu perwakilan dari Lazismu daerah menyampaikan laporan perkembangan sekaligus tantangan di lapangan. Beberapa daerah berbagi pengalaman tentang bagaimana menggerakkan relawan di tingkat ranting dan majelis taklim, sementara daerah lain menyoroti pentingnya inovasi penggalangan dana melalui platform digital sebagai respons terhadap perubahan pola donasi masyarakat.
Lazismu Tulungagung, misalnya, menyampaikan bahwa pendekatan komunitas menjadi strategi efektif dalam membangun basis donatur tetap. Sementara Lazismu Kediri mengungkapkan perlunya membangun budaya administrasi dan dokumentasi yang rapi agar setiap program yang dijalankan memiliki jejak yang bisa dipertanggungjawabkan secara publik.
“Kita ini membawa nama Muhammadiyah. Maka setiap kegiatan bukan hanya harus bermanfaat, tetapi juga harus tertata, terdokumentasi, dan bisa dikomunikasikan dengan baik kepada umat,” ujar salah satu pengurus dalam forum.
Dalam arahannya, Agus Lukman menekankan tiga pilar penting yang harus diperkuat: struktur kelembagaan, kualitas sumber daya manusia, dan koordinasi lintas daerah yang berkelanjutan. Menurutnya, tanpa pembenahan internal yang serius, sebanyak apapun program yang dijalankan akan sulit memberikan dampak jangka panjang.
“Lazismu daerah harus mulai berani memetakan potensi, menetapkan indikator kinerja, dan membangun pola komunikasi rutin. Jangan hanya bergerak kalau ada momentum, tetapi bangun sistem agar kerja kita berkesinambungan,” tegasnya.
Momentum ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi formal, tetapi juga ruang memperkuat kedekatan emosional antar-pengurus. Suasana kekeluargaan terlihat jelas sepanjang pertemuan. Beberapa pengurus tampak berdiskusi di luar agenda utama, membahas kemungkinan sinergi program lintas kabupaten, terutama dalam isu-isu kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi.
Menariknya, pertemuan ini juga melahirkan kesepakatan awal untuk membangun forum komunikasi Lazismu AG Raya yang lebih sistematis. Forum ini diharapkan menjadi kanal koordinasi, berbagi praktik baik, sekaligus sebagai media kontrol bersama agar gerakan Lazismu di wilayah eks-Karesidenan Kediri semakin relevan dan berdaya.
Di akhir sesi, Agus Lukman kembali menekankan bahwa kekuatan Lazismu bukan pada besar kecilnya dana yang dihimpun, tetapi pada ketepatan strategi dan kepercayaan publik.
“Kalau Lazismu dipercaya umat, maka gerakan ini akan mengalir dengan sendirinya. Tapi kepercayaan itu tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari tata kelola, akuntabilitas, dan sikap rendah hati dalam melayani,” tutupnya.
Pertemuan ditutup dengan doa dan semangat baru. Para peserta meninggalkan ruangan dengan wajah optimis, seolah membawa komitmen yang sama: bahwa Lazismu AG Raya harus menjadi contoh gerakan filantropi yang tidak hanya aktif bergerak, tetapi juga kokoh secara kelembagaan dan berkarakter dakwah.
“Lazismu adalah amanah umat. Maka setiap langkah kerja kita harus berangkat dari kesadaran bahwa yang kita jalankan ini adalah bagian dari dakwah, bukan sekadar kegiatan sosial biasa. Di sinilah pentingnya penguatan internal agar kita punya arah yang jelas, ritme yang terukur, dan tim yang solid,” jelas Agus Lukman.
Dalam suasana diskusi yang santai namun serius, satu per satu perwakilan dari Lazismu daerah menyampaikan laporan perkembangan sekaligus tantangan di lapangan. Beberapa daerah berbagi pengalaman tentang bagaimana menggerakkan relawan di tingkat ranting dan majelis taklim, sementara daerah lain menyoroti pentingnya inovasi penggalangan dana melalui platform digital sebagai respons terhadap perubahan pola donasi masyarakat.
Lazismu Tulungagung, misalnya, menyampaikan bahwa pendekatan komunitas menjadi strategi efektif dalam membangun basis donatur tetap. Sementara Lazismu Kediri mengungkapkan perlunya membangun budaya administrasi dan dokumentasi yang rapi agar setiap program yang dijalankan memiliki jejak yang bisa dipertanggungjawabkan secara publik.
“Kita ini membawa nama Muhammadiyah. Maka setiap kegiatan bukan hanya harus bermanfaat, tetapi juga harus tertata, terdokumentasi, dan bisa dikomunikasikan dengan baik kepada umat,” ujar salah satu pengurus dalam forum.
Dalam arahannya, Agus Lukman menekankan tiga pilar penting yang harus diperkuat: struktur kelembagaan, kualitas sumber daya manusia, dan koordinasi lintas daerah yang berkelanjutan. Menurutnya, tanpa pembenahan internal yang serius, sebanyak apapun program yang dijalankan akan sulit memberikan dampak jangka panjang.
“Lazismu daerah harus mulai berani memetakan potensi, menetapkan indikator kinerja, dan membangun pola komunikasi rutin. Jangan hanya bergerak kalau ada momentum, tetapi bangun sistem agar kerja kita berkesinambungan,” tegasnya.
Momentum ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi formal, tetapi juga ruang memperkuat kedekatan emosional antar-pengurus. Suasana kekeluargaan terlihat jelas sepanjang pertemuan. Beberapa pengurus tampak berdiskusi di luar agenda utama, membahas kemungkinan sinergi program lintas kabupaten, terutama dalam isu-isu kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi.
Menariknya, pertemuan ini juga melahirkan kesepakatan awal untuk membangun forum komunikasi Lazismu AG Raya yang lebih sistematis. Forum ini diharapkan menjadi kanal koordinasi, berbagi praktik baik, sekaligus sebagai media kontrol bersama agar gerakan Lazismu di wilayah eks-Karesidenan Kediri semakin relevan dan berdaya.
Di akhir sesi, Agus Lukman kembali menekankan bahwa kekuatan Lazismu bukan pada besar kecilnya dana yang dihimpun, tetapi pada ketepatan strategi dan kepercayaan publik.
“Kalau Lazismu dipercaya umat, maka gerakan ini akan mengalir dengan sendirinya. Tapi kepercayaan itu tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun dari tata kelola, akuntabilitas, dan sikap rendah hati dalam melayani,” tutupnya.
Pertemuan ditutup dengan doa dan semangat baru. Para peserta meninggalkan ruangan dengan wajah optimis, seolah membawa komitmen yang sama: bahwa Lazismu AG Raya harus menjadi contoh gerakan filantropi yang tidak hanya aktif bergerak, tetapi juga kokoh secara kelembagaan dan berkarakter dakwah.
Tags:
#sosial
#lazismu Tulungagung
#LAZISMU AG raya
#temanamal