Dari Al-Ma’un ke Lazismu: Muhammadiyah Teguhkan Diri sebagai Kiblat Filantropi Bangsa
Oleh: Muhammad Khoirun Nizam
•
18 November 2025
•
98 Dilihat
Berita
temanamal.org - Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Tulungagung, Drs. Arief Sudjono Pribadi, menegaskan kembali posisi Muhammadiyah sebagai salah satu poros filantropi terbesar di Indonesia. Hal itu ia sampaikan dalam agenda refleksi Milad Muhammadiyah ke-113 yang digelar Lazismu Tulungagung, Senin, 18 November 2025.
Dalam pemaparannya, Arief menyebut filantropi sebagai prinsip dasar gerakan Muhammadiyah. “Filantropi itu pengorbanan. Yang dituntut adalah memberi dan menghadirkan kesejahteraan bagi sesama manusia. Lazismu tidak boleh berorientasi profit,” kata Arief.
Ia menekankan bahwa kerja amil harus berlandaskan keikhlasan. Menurutnya, amil bukan sekadar pelaksana program, tetapi pelayan umat yang bekerja dalam bingkai ibadah. “Niatnya harus lurus. Ini ibadah, bukan pekerjaan administratif,” ujarnya.
Jejak Panjang Filantropi Muhammadiyah
Arief menyebut bahwa karakter filantropi Muhammadiyah sudah terbentuk sejak awal pergerakan. Seluruh capaian organisasi mulai dari amal usaha hingga jaringan layanan sosial, selalu ditujukan kembali untuk masyarakat.
“Skala filantropi Muhammadiyah jauh lebih luas. Semua yang diperoleh Muhammadiyah pada akhirnya kembali untuk umat,” kata dia.
Ia juga merujuk pada Surat Al-Ma’un sebagai pijakan moral gerakan sosial Muhammadiyah. Surat itu, menurut Arief, tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga kerangka etik dalam membela kelompok lemah. “Al-Ma’un itu sangat kuat muatan filantropinya. Dari sana gerakan ini mendapatkan arah,” ujarnya.
Islam Berkemajuan dan Dampak Sosial
Dalam kesempatan itu, Arief menyinggung gagasan Islam Berkemajuan, yang menurutnya harus diartikan sebagai inovasi dalam muamalah yang tetap berpihak pada masyarakat luas.
“Kemajuan itu penting, tapi mandat akhirnya tetap kesejahteraan masyarakat. Semua inovasi harus kembali ke umat,” ucapnya.
Arief menilai gerakan filantropi memiliki kontribusi strategis bagi kesejahteraan bangsa. Ia meminta Lazismu terus memperluas dampak sosial melalui program-program yang adaptif dan berkelanjutan.
“Filantropi bukan hanya memberi santunan, tapi menggerakkan perubahan. Muhammadiyah harus tetap berada di depan,” kata dia.
Refleksi Milad ke-113 ini mempertegas identitas Muhammadiyah sebagai organisasi yang menjadikan filantropi bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi komitmen ideologis yang bersumber dari ajaran Islam dan tradisi panjang pelayanan umat.
Ia menekankan bahwa kerja amil harus berlandaskan keikhlasan. Menurutnya, amil bukan sekadar pelaksana program, tetapi pelayan umat yang bekerja dalam bingkai ibadah. “Niatnya harus lurus. Ini ibadah, bukan pekerjaan administratif,” ujarnya.
Jejak Panjang Filantropi Muhammadiyah
Arief menyebut bahwa karakter filantropi Muhammadiyah sudah terbentuk sejak awal pergerakan. Seluruh capaian organisasi mulai dari amal usaha hingga jaringan layanan sosial, selalu ditujukan kembali untuk masyarakat.
“Skala filantropi Muhammadiyah jauh lebih luas. Semua yang diperoleh Muhammadiyah pada akhirnya kembali untuk umat,” kata dia.
Ia juga merujuk pada Surat Al-Ma’un sebagai pijakan moral gerakan sosial Muhammadiyah. Surat itu, menurut Arief, tidak hanya menjadi inspirasi, tetapi juga kerangka etik dalam membela kelompok lemah. “Al-Ma’un itu sangat kuat muatan filantropinya. Dari sana gerakan ini mendapatkan arah,” ujarnya.
Islam Berkemajuan dan Dampak Sosial
Dalam kesempatan itu, Arief menyinggung gagasan Islam Berkemajuan, yang menurutnya harus diartikan sebagai inovasi dalam muamalah yang tetap berpihak pada masyarakat luas.
“Kemajuan itu penting, tapi mandat akhirnya tetap kesejahteraan masyarakat. Semua inovasi harus kembali ke umat,” ucapnya.
Arief menilai gerakan filantropi memiliki kontribusi strategis bagi kesejahteraan bangsa. Ia meminta Lazismu terus memperluas dampak sosial melalui program-program yang adaptif dan berkelanjutan.
“Filantropi bukan hanya memberi santunan, tapi menggerakkan perubahan. Muhammadiyah harus tetap berada di depan,” kata dia.
Refleksi Milad ke-113 ini mempertegas identitas Muhammadiyah sebagai organisasi yang menjadikan filantropi bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi komitmen ideologis yang bersumber dari ajaran Islam dan tradisi panjang pelayanan umat.
Tags:
Muhammadiyah
Filantropi
Sosial & Keagamaan
Tulungagung
Organisasi
Milad Muhammadiyah 113